Menolak Lupa di Titik Nol Anyer: Tapal Mula Jalur Legendaris Pembawa Nestapa dan Sejarah

Banten Eksis

SERANG — Riuh rendah suara ombak Pantai Anyer sore itu seakan menyamarkan sebuah fragmen sejarah kelam yang terkubur dua abad silam. Bagi sebagian besar pelancong, pesisir barat Kabupaten Serang ini hanyalah pelarian akhir pekan yang menawarkan eksotisme pasir putih. Namun, tepat di Kampung Bojong, Desa Cikoneng, berdiri sebuah penanda besi yang kokoh: Monumen Titik Nol Kilometer Anyer-Panarukan.

Di sinilah, angka “0 KM” secara resmi ditorehkan. Sebuah titik mula dari proyek raksasa Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) sepanjang 1.000 kilometer lebih yang membelah Pulau Jawa hingga ke ujung timur Panarukan.

Ambisi Daendels dan Puing yang Tersisa

Jejak megaproyek ini tak bisa dilepaskan dari tangan besi Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada tahun 1808. Terdesak oleh blokade armada laut Inggris di Batavia, Daendels memutar otak dan memerintahkan pembangunan jalur darat kilat demi mobilisasi pasukan pertahanan militer.

Sebagai pemandu navigasi utama di wilayah strategis tersebut, Mercusuar Cikoneng pun didirikan. “Menara suar yang asli sebenarnya sudah ada sejak tahun 1806 sebelum proyek jalan dimulai,” tulis catatan dokumen navigasi Kemenhub. Namun, amukan dahsyat letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 menyapu bersih bangunan batu tersebut dan hanya menyisakan pondasi dasarnya.

Bangunan putih setinggi 75,5 meter yang berdiri dengan anggun saat ini merupakan hasil rekonstruksi ulang tahun 1885 oleh Raja Belanda Willem III. Tepat di atas bekas pondasi menara lama yang hancur itulah, kini berdiri Tugu Nol Kilometer berupa sepasang tangan baja yang memeluk bola dunia—simbol otentik dimulainya peradaban jalur modern Jawa.

Mengubah Memori Kelam Menjadi Edukasi

Kompleks wisata sejarah ini kini telah bersolek rapi di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. Tidak hanya menjadi spot foto yang ikonis, kawasan ini menjelma sebagai ruang edukasi terbuka bagi generasi muda yang ingin menelusuri sejarah maritim dan kenavigasian Indonesia.

Bagi pelancong yang tertarik berkunjung, berikut ringkasan panduan destinasi Titik Nol Anyer:

  • Lokasi & Akses: Kampung Bojong, Desa Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang. Berjarak sekitar 1 hingga 1,5 jam perjalanan darat dari pusat Kota Serang.
  • Aktivitas Utama: Menapaki museum foto navigasi di dalam mercusuar, berfoto di tugu ikonik globe, hingga menikmati panorama sunset dengan latar siluet Gunung Anak Krakatau di kejauhan.
  • Retribusi Wisata: Tiket masuk dihitung berdasarkan kendaraan, yakni Rp10.000 untuk roda dua dan Rp50.000 untuk roda empat.

Dualitas Rasa di Tepi Pantai

Berdiri di Titik Nol Anyer menghadirkan sebuah dualitas rasa yang kontras. Di satu sisi, mata kita dimanjakan oleh bentang alam Selat Sunda yang memukau. Namun di sisi lain, monumen ini bertindak sebagai prasasti reflektif untuk mengenang peluh, darah, dan ribuan nyawa kaum pribumi yang gugur dalam kerja paksa (rodi) demi terbentangnya jalan tersebut.

Kombinasi antara keindahan visual dan nilai historis yang pekat inilah yang membuat Titik Nol Kilometer di Kabupaten Serang bukan sekadar tempat singgah biasa, melainkan sebuah monumen hidup yang merekam awal mula modernisasi sekaligus perjuangan bangsa.

Share This Article
Follow:
Redaktur Banten Eksis menghadirkan jurnalistik digital yang akurat, estetik, dan komunikatif. Lini redaksi aktif mengawal pemberitaan yang mendukung kemajuan UMKM, ekonomi kreatif, dan potensi masyarakat Banten.
Leave a Comment