Pandeglang – Nelayan di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, keluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar. Pengiriman yang lambat membuat para nelayan menganggur dan hanya bisa memperbaiki jaring alat tangkap mereka di atas kapal yang bersandar di darmaga.
Juna salah seorang nelayan mengatakan, kelangkaan BBM subsidi, nelayan harus mengurangi aktivitas melaut. Dan ini akan berdampak terhadap biaya operasional serta pendapatan nelayan.
“Biasanya sih kita cuma nganggur satu hari, karena langka bisa semingguan kita diem di rumah kang,” keluh juna.
Juna berharap pasokan BBM subsidi dapat kembali normal dan distribusinya dilakukan secara tepat waktu. Karena menurutnya, ketersediaan BBM menjadi kebutuhan penting bagi nelayan di kecamatan Labuan.
“Kalau bisa dipenuhi dan kuotanya diperbanyak, terus pengirimannya jangan lambat. Kan kalau lancar kami bisa melaut,” harapnya.
“Sebenarnya kebutuhan BBM kita ini antara 30 sampai 40 liter setiap kali melaut,itu untuk Perahu Jaring. Tapi kalau perahu-perahu kecil malah lebih banyak lagi bisa sampai 80 liter,” tambahnya.
Terpisah, Manager Station Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBU-N) 38-42227 Labuan, Indra membenarkan adanya keterlambatan pengiriman dari pusat. Indra memastikan ketersediaan BBM hingga saat ini masih aman.
“Untuk pengiriman memang kami tidak memungkiri bahwa adanya keterlambatan, itu dikarenakan adanya perawatan mobil dan lain hal,” kata Indra.
Indra mengaku pengurangan kuota yang terjadi ini sebenarnya sudah terinformasikan kepada para nelayan. Kami juga sedang berjuang dan mudah-mudahan ini akan kembali normal.
“Beberapa bulan lalu kita memang ada pengurangan kuota dari 320 ribu liter perbulan menjadi 176 ribu liter perbulan. Cuman ternyata bisa secara manual, bahkan dua bulan terakhir sudah di atas 320 ribu liter lagi,”ungkapnya.